Teori Ekonomi Lokal

  • 0
1. Teori Basis Ekonomi

Teori ini berdasarkan pada ekspor barang (komoditas). Sasaran pengembangan teori ini adalah peningkatan laju pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan. Proses pengembangan kawasan adalah merespon permintaan luar negeri atau dalam negeri atau di luar nodalitas serta multiplier effect ( Geltner, 2005). Teori ini sangat populer dan mudah dimengerti, data tersedia menekankan pentingnya industri lokal. Oleh karena sederhana, teori ini hanya mampu memprediksi jangka pendek dan tidak mampu merespon perubahan jangka panjang. Hanya menekankan perlunya mengembangkan sektor industri non basis, tidak mengenal bahwa ekonomi regional adalah mengintegrasikan seluruh aktivitas ekonomi yang saling mendukung. Penerapan pengembangan industri ini berorientasi ekspor dan subtitusi impor, promosi dan pengerahan industri, peningkatan efisiensi ekonomi ekspor melalui perbaikan infrastruktur. Untuk itu ada integrasi antara jenis industri, prasarana, dan perluasan industri. Dapat disusun hipotesa selain lokasi juga peranan sektoral serta LQ ( Location Qoutient) sektor konstruksi perumahan  realestat dalam satu kawasan.

2. Teori Staple

Arti kata staple adalah barang pokok yang diproduksi dan tumbuh di satu kawasan. Satu item pokok perdagangan dengan permintaan yang langgeng. Biasanya adalah bahan mentah seperti padi, bijih coklat, bijih sawit, bijih besi atau bijih plastik, dll. Teori Staple berdasarkan pada industri berorientasi ekspor sebagai kunci pertumbuhan ekonomi yang proses pengembangannya melalui penanaman modal asing untuk melayani kebutuhan pasar internasional. Secara empiris memang terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi apakah benar pertumbuhan hanya disebabkan oleh ekspor?. Karena penerapan peningkatan daya saing ini melalui spesialisasi ( ekspor) maka para praktisi harus terus terfokus pada sumber daya dan kebijakan pada local staple selama masih berdaya saing. Peran pemerintah sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan daya saing. Fokus penganeka ragaman industri lokal tidak dilaksanakan selama staplenya masih kuat. Dalam studi ini, ekspor jasa dalam arti jumlah pedagang diharapkan mampu menarik pembeli dari luar daerah / luar negeri ( ekspor pasif). Maksudnya adalah barang dijual di lokasi dalam negeri kemudian dibawa pembeli ke luar negeri seperti pada sektor pariwisata.

3. Teori Sektor

Istilah sektor secara matematis adalah bagian dari lingkaran yang dibatasi oleh dua jari jari dan satu busur. Dan secara militer berarti satu divisi dari kawasan pertahanan atau kawasan penyerangan di mana satu satuan militer bertanggung jawab. Satu bagian yang berbeda dan punya nilai keutamaan (sektor pertanian dalam ekonomi). Teori ini memandang pengembangan semua sektor baik primer pertanian kehutanan dan perikanan, sekunder industri dan pertambangan, maupun tertier perdagangan dan jasa yang beraneka ragam berpengaruh pada peningkatan produktivitas sektor sehingga meningkatkan kebutuhan dan pendapatan pekerja persektor dan mendorong penganekaragaman industri. Permasalahannya adalah secara empiris mungkin benar, tetapi secara umum belum terbukti kuat bahwa pengembangan sektor dan produktivitas akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena tidak memperhatikan sektor ekspor yang sangat dibutuhkan sektor tersier. Sektor sektor berkembang sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan diharapkan akan mampu menarik investasi di sektor-sektor unggulan yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan.

4. Growth Pole Theory

Teori ini berdasar pada industri dengan sasaran pengembangan industri berbahan baku dari daerah lain sehingga pertumbuhan industri macam ini selain mendorong ekonomi lokasi industri, juga mampu meneteskan pertumbuhan ekonomi ke daerah lain. Proses pengembangan lokasi industri ( propulsive industry) merupakan kutub pertumbuhan ( Growth Pole). Kelebihan dan atau kelemahan pertumbuhan ekonomi sangat bertumpu pada adanya "Propulsive Industry” dan ada kecenderungan tejadi aglomerasi industri sehingga kota kota sebagai "Growth Pole” tumbuh terlalu cepat. Pada penerapannya kutub pertumbuhan ini dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan strategis. Satu hipotesa yang dapat dikemukakan dalam teori ini dimanifestasikan dalam variabel laten lokasi diukur jaraknya terhadap pusat-pusat kegiatan ekonomi apakah ada pengaruhnya terhadap peranan ekonomi satu kawasan

5. Regional Concentration and Diffusion Theory


Berdasarkan pada perdagangan antar daerah dan antar industri, teori ini mempunyai sasaran pengembangan berupa peningkatan pendapatan per kapita melalui proses pengembangan “Spread and back-wash effect” (Myrdal) atau terjadinya penetesan perkembangan dan efek polarisasi (Hirchman). Permasalahan teori ini adalah hanya ditujukan pada daerah-daerah (kota) tertentu yang mempunyai pertumbuhan tinggi. Namun hal ini dapat di atasi dengan peran pemerintah dalam mengurangi efek polarisasi dan mengurangi kesenjangan (Myrdal) melalui pembangunan prasarana (Hirchman). Perlu di teliti penerapan pemerintah berupa zoning ( penyebaran lokasi pusat pertumbuhan ) serta variabel indikator jumlah industri, jumlah tenaga industri dan LQ industri.

6. Neoclassical Growth Theory

Dasar Teori ini adalah dengan memandang pengembangan ekonomi secara menyeluruh terdiri dari agregasi ekonomi wilayah dengan sasaran pengembangan berupa peningkatan laju pertumbuhan ekonomi per kapita. Suku bunga dan tabungan akan mendukung investasi dan pembentukan modal yang akan menggerakkan ekonomi. Ekonomi nasional dan regional secara alamiah saling menarik ke arah keseimbangan. Kelemahan teori ini adalah hanya mendasari "Supply-side Model", tidak mengenal pesanan sisi permintaan, mengijinkan penurunan peringkat kawasan, pemerintah yang sangat terbatas diharapkan akan mempromosikan perdagangan bebas dan integrasi ekonomi nasional dan internasional dengan mengabaikan kesenjangan sosial dan dualisme spasial.

7. Interregional Trade Theory


Teori ini berdasar pada faktor harga dan kuantitas pada komoditas dan menganggap peningkatan pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan konsumsi. Penyesuaian harga dan kuantitas akan memberikan keseimbangan pada harga, kualitas, dan efek efek lainnya. Semakin konsumen sejahtera semakin besar anggaran belanjanya dan pertumbuhan terus berlanjut yang seterusnya meningkatkan kesejahteraanya. Teori ini hanya menekankan pada konsumsi dan efek harga saja, tetapi mengabaikan dinamika pembangunan. Teori ini secara eksklusif difokuskan pada perdagangan dan hubungan dagang. Bukti-bukti sudah jelas bahwa perdagangan tidak saling menguntungkan, mengabaikan dampak sosial pertumbuhan yang tidak tercantum dalam harga barang. Maka peran pernerintah adalah mengadakan intervensi dalam perdagangan bebas, pembangunan prasarana, dan efisiensi pemerintah daerah.

8. Product Cycle Theory


Dengan adanya kenyataan bahwa produk baru akan mengalami siklus "maturing", distandarisasi, dan kemudian usang maka sasaran pengembangan kreasi baru dan difusi akan terus muncul. Permasalahannya terletak dalam proses pengembangan produk baru melalui inovasi, hal ini hanya bisa direspon oleh para peneliti dan inovator dengan diterapkannya produk – produk inovatif dan penyebarannya, lemah dalam menjelaskan sektor jasa, tidak memperhitungakan diferensiasi produk, tidak jelas dalam isu kepemilikan dan pengendalian. Salah satu pertanyaannya adakah pengaruh antar perdagangan dan jasa dan barang tidak lepas dari teori siklus produk,

9. Entrepreneurship Theory

Pengusaha beperanan dalam pertumbuhan ekonomi dengan sasaran pengembangan ketahanan dan diversifikasi melalui proses pengembangan inovasi produk baru dan kombinasi baru oleh sebab itu dibutuhkan agen – agen mediasi (pemasaran) dalam menggerakkan pengembangan ekonomi lokal. Kenyataan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari pengusaha baru yang sukses dan bertahan. Teori ini tidak memperhatikan struktur ekonomi yang ada dan kemampuannya berinovasi sehingga hanya relevan di pusat kota dan di daerah pinggiran tidak jelas. Dalam penerapannya teori ini mendukung kegiatan industri dan pelestarian lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan. Penerapannya membutuhkan dukungan opini, inkubator dan kredit serta penurunan pajak, serta ruang-ruang dan lokasi pemasaran yang mudah. Penggolongan pengembangan usaha baru, usaha kecil, dan pengembangan usaha dari wirausaha harus jelas. Dalam studi saya yang lain, pengusaha realestat adalah entrepreneur, hubungan antara perdagangan dan jasa dan barang adalah proses mediasi berupa pemasaran barang-barang yang dihasilkan oleh basis ekonomi ( hasil industri yang tradabel ), serta pengaruh lokasi industri yang terpusat dan apakah berpengaruh terhadap jumlah tenaga industri kecil. Hasilnya ada.

10. Flexible Specialization Theory

Teori ini berdasarkan pada rejim produksi dan organisasi industri, struktur industri berperan penting dalam pembangunan berkelanjutan melalui inovasi produk dan atau produk – produk baru serta spesialisasi. Proses pengembangannya mengikuti pola permintaan (demand) serta membutuhkan fleksibilitas untuk memperoleh daya saing dan pertumbuhan. Struktur industri yang kokoh dapat dicapai dengan penerapan perkembangan teknologi, jejaring dengan pengusaha kecil, dan mengadakan strategi aliansi dengan industri lain. Permasalahan terjadi ketika fleksibiltas bisnis tidak memperhatikan kesulitan pekerja dan masyarakat, contoh : lokasi industri, pengangguran periodik, pekerja anak, monopoli dan seterusnya. Studi saya yang lain berkaitan dengan teori ini yaitu mencari korelasi antara lokasi pusat industri dan gudang dalam membentuk kawasan serta pengaruhnya terhadap jumlah tenaga industri kecil apakah memanfaatkan kedekatan lokasi di satu kota tertentu mengeluarkan satu hasil tertentu.

sumber : http://getuk.wordpress.com

No comments:

Post a Comment