Semacam Review : Hanamizuki

  • 0
Berhubung malam ini malam jumat, maka saya putuskan untuk menonton film. Penyataan tadi itu bukan merupakan penyataan sebab-akibat, walaupun saya tahu kau berpikir seperti itu. Itu hanyalah pencocokan timing saja.

Dari sekian banyak film, saya putuskan untuk menonton film Jepang. Film Jepang asli, bukan film Jepang seperti koleksimu yang kau simpan rapat-rapat dalam folder ter-hidden.

Saya punya beberapa pengalaman bagus dalam menonton film-film buatan negeri Jepang. Kebanyakan film-film yang berhasil tertampung di dalam hard disk eksternalku ini masuk dalam kategori sejenis komedi remaja, semacam itulah. Tidak perlulah saya harus menyebut semua judul filmnya karena dengan itu akan membuatmu penasaran. Saya sebenarnya berharap kau dapat mandiri dan mulai berinisiatif sendiri bertanya kepada mas Google.


Film yang saya tonton ini berkisah tentang perjalanan cinta absurd antara seorang nelayan dengan seorang fotografer part-time. Saya harus menyebut jelas kata "seorang", supaya kau tidak berpikir yang bukan-bukan. Kau kira ini film apakah? sinetron Indonesia?

Kenapa saya bilang absurd? karena saya masih heran, kenapa dalam adegan di film ini, dimana ketika sang pria dan sang wanita berjalan berdua dalam keremangan malam di bawah sinar bulan dan terpaan salju ringan, justru tercipta momen romantis. Kenapa? Kenapa harus begitu?. Harusnya dalam adegan seperti ini, berkaca pada film-film yang biasa saya nonton, harusnya dalam kondisi seperti itu justru tercipta suasana sebaliknya, suasana yang menyeramkan dimana ditandai dengan munculnya sosok pembunuh berdarah dingin dari balik semak-semak atau sejenis setan entah darimana atau semacam hal-hal yang selalu kau bayangkan ketika berjalan di kegelapan malam. Kau pasti tahu hal-hal semacam itu kan? karena pada dasarnya kau memang penakut. Kalau saya sih tidak. Bukan dikarenakan saya pemberani, tapi saya malas keluar malam-malam. Ngapain coba.

Intinya, pesan yang tersirat di film ini bukan seperti di atas. Justru kalau kau perhatikan, ada sebuah pesan moral yang sebenarnya sempat membuat saya sedikit merasa haru, yaitu dimana ketika sang wanita terhitung dua kali beradegan teriak memanggil sang pria. Satu di pantai dan satunya lagi ketika di dermaga. Saya harap di titik ini kau sudah menonton filmnya, karena akan sia-sialah seluruh hal yang sudah saya jabarkan sedari tadi kalau ternyata kau belum menonton film tersebut.

Pesan moral di dalam film ini adalah: kalau kau berpacaran dengan seorang nelayan, sering-seringlah melatih pita suara dan batang tenggorokanmu. Tujuannya jelas, yaitu untuk memperkuat dan memperkeras suaramu. Karena dipastikan, seperti dalam film ini, kau akan terbiasa mendapat kondisi yang sebetulnya tidak mengenakkan tersebut yaitu teriak-teriak di dermaga. Sementara pasanganmu sendiri sudah berada di tengah laut. Entah dia dengar atau tidak, itu urusannya, jangan kau paksakan. Belajarlah untuk terbiasa.

Jreng..jreng..!! Inilah filmnya..


No comments:

Post a Comment