Seperti Demensia

  • 0
Lazuardi perlahan berubah menjadi kelabu. Pertanda gumpalan besar cumulus yang tertiup angin muson barat telah siap menunaikan kewajibannya. Inilah musim hujan, dan karenanya membuat kamar mendadak dibaiat menjadi episentrum rotasi kegiatan harian. Siapa sih yang mau kuyup hanya gara-gara keinginan untuk menjadi seorang yang kompromistis terhadap lambung yang mengidamkan sebungkus Indomie di warung depan jalan? Cobalah sekali-sekali untuk puasa, jangan manja. Kalaupun mencoba untuk menembus blokade curahannya, itu sama saja mengikhlaskan sistim imun tubuhmu dicecar oleh flu dan demam. Saya jelas tidak mau. Akibat kondisi iklim semacam ini pulalah, yang membuat merenung menjadi aktivitas yang rasional.

Akhir-akhir ini, saya mulai merasa kalau saya mulai melupakan nama-nama. Saya sadari itu waktu pulang kampung kemarin. Seiring keputusanku untuk me-restart hidup di tempat yang baru, perlahan-lahan wajah-wajah baru mulai menelusuk kotak memori remote di kepalaku. Hal itu rupanya berdampak pada hippocampus yang mengharuskan menjalankan fungsinya secara elegan dalam menghilangkan beberapa episode ingatan. Kata pasrah menjadi konsekuensi logis, tidak bisa menghindar. Kalaupun kau mau protes, proteslah pada otakmu sendiri, siapa suruh kapasitasnya cuma kilo-byte.

Seperti inilah gambarannya

Ini mungkin proses kehidupan yang harus kita jalani, dimana semua datang silih berganti dan setiap kenangan terpaksa harus berkompromi dengan waktu.

NB: Permintaan maaf untuk teman-temanku di TK, SD, SMP dan SMA. Saya kadang melupakan nama kalian, tapi wajah-wajah kalian sejatinya tetap ada diingatanku. :)

No comments:

Post a Comment