Suara

  • 0
Pada akhirnya suara-suara rakyat penghuni akar rumput hanyalah menjadi suara yang layaknya kita dengarkan saban pagi di pasar-pasar, di jalan-jalan atau ditempat keramaian lainnya. Ramai dan sumbang. Hanyalah menjadi suara sambil lalu. Tidak penting dan tidak pantas diperhatikan.

Suara rakyat hanyalah menjadi variabel penting dalam periode 5 tahunan, yaitu saat pemilihan umum berlangsung. Setelah itu, bisa kita lihat sendiri. Masyarakat diinjak-injak harkatnya, tidak dipenuhi hak-hak dasarnya, dibungkam suara-suaranya, dipermainkan oleh hukum dan oknum-oknum didalamnya.

Vox populi vox dei atawa suara rakyat adalah suara Tuhan telah menjadi semboyan usang, bertindih-tindihan dengan semboyan-semboyan lain tentang sistem pemerintahan dan sistem masyarakat yang utopis, yang hanya bisa terwujud di alam ide. Tidak ada lagi yang peduli dengan demokrasi yang bersih. Pemilu yang tidak bersih, pemerintah yang korupsi, janji-janji yang tidak ditepati serta keterancaman pluralisme merupakan cacat-cacat demokrasi yang semakin hari semakin lebar menganga. Semua orang tahu, tapi semua orang hanya bisa diam. Karena cuma itu yang bisa kita lakukan. Sekali melawan, sepatu-sepatu negara siap menginjak dan menguburkan aspirasi-aspirasimu, bahkan nyawamu.

Pusing coy..

Saya rasa, negara ini telah menjadi layaknya sinetron. Kita hanya bisa melihat, menonton, kemudian mengutuk, menyumpah, mencaci, memaki kemudian pasrah, ikhlas lalu menanti episode esok hari. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merubahnya. Karena skenario dan pementasan harus terus berlanjut. Karena itu telah menjadi sebuah kemafmuham, walaupun logika kita terkadang menolak. Nasib..nasib..

No comments:

Post a Comment