Hiperrealitas

  • 0

Pada dasarnya, sinetron ataupun serial TV memang bertujuan untuk mengkonstruksi realita dengan pendekatan hiperbolis. Semacam perekayasaan realitas dengan cara-cara irasional, semacam begitulah. Dan fenomena akhir-akhir ini banyak bermunculan sinetron atau serial yang bertendensi agama. Entah apa tujuannya. Akhirnya bikin susah KPI saja, banyak menerima pengaduan dari masyarakat yang merasa seolah-olah tayangan-tayangan tersebut telah mempolitisir simbol-simbol agama dengan melekatkan pada sebuah identitas tertentu. Takutnya orang-orang akan menelan ide tersebut sehingga lambat laun simbol agama tersebut akan berubah makna.

Sudah kita tahu bersama, para penggemar sinetron, yang kemudian disebut sinetroner (ini istilah siapa yang buat?), cenderung membawa realitas sinetron masuk ke dalam realitas sesungguhnya, lalu menggeneralisir segala macam karakter manusia di sinetron, baik protagonis maupun antagonis, menjadi sama dengan karakter yang ada di dunia nyata. Contohnya, karakter pak haji di sinetron masa kini divisualisasikan sebagai seorang yang kikir atau semacam sifat buruk lainnya. Saya sebanarnya tidak dalam posisi membela posisi pak haji, karena saya tahu tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tapi berhubung ini ditampilkan secara gamblang plus hiperbolis serta dilakukan berulang-ulang di TV. Lambat laut orang berasumsi bahwa di kehidupan nyatapun sama adanya, sehingga tak heran bila kebanyakan pak haji kemudian dipersepsikan sebagai orang yang kikir. Walaupun memang adakalanya betul, tapi dikahawatirkan terjadi kecenderungan overgeneralisasi watak, yang pada akhirnya mencederai hakikat seorang haji.


Fenomena inilah yang menggambarkan betapa kuatnya pengaruh TV dalam membentuk persepsi orang dalam memandang realitasnya sehari-hari. Jangan sampai jadi korban media.

No comments:

Post a Comment