Middle Class Dilemma

  • 0
Ini kayaknya jadi situasi yang aneh. Angkutan umum berseliweran diluar sana, tapi kita tidak bisa kemana-mana. dilematis memang. Situasi ini disebabkan karena tidak bertambahnya jumlah uang di kantong sementara disisi lain kecepatan pengurangannya semakin bertambah. mirip fenomena gletser di arktik. makin tahun, makin bertambah kecepatan penurunan kuantitasnya. tapi kalau gletser karena global warming, ini karena inflasi akibat pengurangan subsidi BBM, katanya begitu. kalau sudah begini kita mau apa?

Inilah susahnya menjadi masyarakat kelas menengah. Posisinya pas berada ditengah si kaya (golongan berlebih) dan si miskin (golongan kekurangan). faktanya, golongan inilah yang paling banyak berada di Indonesia. golongan pas-pasan. uang ada tapi jumlahnya pas, tidak kurang dan sekaligus tidak lebih. walaupun memiliki disposable income, tapi kalau dibarengi dengan gaya hidup over konsumtif, hasilnya tetap saja pas-pasan.

middle class dilemma

Situasi ini sejatinya sungguh riskan. bagaimana tidak, fraksi sekecil apapun pada harga pasar, bisa berdampak pada terganggunya keseimbangan kas neraca keuangan keluarga. inikan ngeri-ngeri sedap, kalau katanya Sutan Bhatoegana. kalau sudah begini, mau tidak mau, adaptasi harus dilakukan. tidak ada yang mau jadi dinosaurus jaman modern. oleh karenanya, usaha untuk mendekati titik ekuilibirium pun harus ditempuh, walaupun dengan konsekuensi harus melakukan pengetatan alokasi dana untuk pemenuhan kebutuhan sekunder, tersier, kuanterner dan seterusnya. ini semata dilakukan demi menjaga status quo pemenuhan kebutuhan primer. tidak ada yang mau mati karena lapar. itulah sebabnya revolusi Perancis sukses.



ini sungguh-sungguh dilematis memang. saya menganjurkan sebaiknya pemerintah bertanggungjawab secara cepat dalam pengentasan kegundahan masyarakat ini. Mungkin bisa dengan jalan mengadakan training ikhlas dan sabar. setidaknya ini setara BLSM pada masyarakat miskin. Semoga berhasil.

No comments:

Post a Comment