Sejenis Forklore: Lelaki Delusional

  • 0
"Hei, Rina!" teriakku memanggilmu.
"Hei, Rina.. ya Rina kamu!", teriakku lagi. Kamu kayaknya memang sengaja membuatku begini, memanggilmu berkali-kali seolah-olah sangat membutuhkanmu.

Malam ini sungguh suram. Yang ada hanya genangan air mengisi ceruk-ceruk tanah yang berlobang-lobang. Kamu mendekat. Berjingkat-jingkat, melompat-lompat menghindari genangan air. Kamu kayaknya sudah mahir menghindari genangan air itu, terlihat dari gerakanmu. "Mungkin kau sering berada disini pada jam-jam begini", pikirku.

Ah, kamu memang wanita yang aneh. Dan juga tempat ini memang aneh. Di kota ini ada banyak tempat pertemuan yang lebih bagus, kenapa pula kita harus bertemu disini. Di pasar pinggir kota, menjelang tengah malam pula. Sungguh ini semua merupakan inisiatifmu.

***

Saya merasa kita memang telah ditakdirkan bertemu. Dari sekitar 1,19 miliar manusia yang berkelindan di ruang Facebook, kita berdua bertemu diwaktu yang tepat. Seakan ada konspirasi. "Mungkin ini namanya cinta sejati. kita tak perlu saling mencari, ialah yang mempertemukan kita", begitu pikirku sembari teringat salah satu bait lagu d'Masiv. Ah.. d'Masiv, band kesukaan remaja tanggung-galau. Harusnya saya lebih banyak mendengar lagu-lagu yang sesuai umurku biar tidak selalu terjebak melankolia dan romantisme semu.

Dirimu memang seorang bidadari. Begitulah impresi pertama yang terbetik saat melihat foto profilmu. Kombinasi antara Camera 360 plus angle foto yang pas plus gaya yang dibuat seolah-olah imut benar-benar memaksimalkan dan mengeluarkan kecantikan alamiahmu. Saking girangnya, saya sempat tak sadar (atau mungkin mabok), menulis di dinding facebookmu, "You are beautiful". Entah setan apa yang menggerakan tanganku waktu itu. Tapi sebenarnya yang saya sesalkan bukan itu, kenapa lagi-lagi saya harus mengutip judul lagu dan kenapa pula harus lagunya Cherrybelle. Saya benar-benar harus di-ruqyah tampaknya.

Namun ajaibnya, kamu ternyata meresponnya!. Saya mencoba menduga-duga, mungkin kamu mengidap Histrionic Personality Disorder. Entahlah... Yang pasti, sejak saat itu, kita semakin intens berhubungan, baik via teks maupun telepon.

Semua hal itu terjadi dalam kurun sebulan yang lalu. Dan malam ini merupakan sebuah lompatan besar karena malam ini adalah pertemuan pertama kita. Sungguh kejadian langka sebab biasanya belum pernah ada wanita yang mau diajak bertemu. Kamulah pengecualian-nya, semacam merkuri dalam kelompok logam atau semacam Kal-El yang lahir normal di planet Krypton.

"Ah, sudahlah.." gerutuku sambil menurunkan tempo nafas dan debar jantung. Saya coba memfokuskan kembali pikiran dan pandanganku yang cenderung megalomaniak.

***

Bulan masih tertutup awan. Kamu berada dihadapanku. Saya memandangimu sambil mencoba menata kalimat dilidah. Tak dinyana, kamu memulai percakapan dengan mengucapkan selarik kalimat tak acuh yang menohok, "Siapa kamu? Saya lagi sibuk tau!".

Aduh.

No comments:

Post a Comment