Mengoreksi kembali ambang batas diri

  • 0

banjir asyik
Setiap manusia merumuskan konsep mengenai ambang batas dirinya. Konsep ambang batas ini kemudian terwujud dalam mentalitas mengenai apa yang masih dianggap wajar dan apa yang tak dapat lagi ditolerir.

Ambang batas itu pasti berbeda-beda tiap orang. Tapi terkadang pula ada ambang batas kolektif yang terbentuk dalam sekelompok masyarakat di satu wilayah akibat menempati setting lingkungan yang sama. Hal ini menyebabkan dimensi perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik dari kelompok masyarakat tersebut secara umum menjadi homogen.

Liatlah di Jakarta, betapa banjir telah menjadi peristiwa tahunan yang selalu berulang-ulang, belum ada indikasi penyelesaian masalah, minimal meminimalisasi dampak, secara holistik dari segenap pemerintah yang terlibat. Layaknya acara dangdutan di samping rumah, tidak ada upaya yang bisa dilakukan untuk menghentikannya, kecuali turut larut dalam ekstase suara biduanita yang melenakan.

Sembari menunggu kebaikan hati dari para penguasa untuk mengatasi masalah. Di sisi lain, dalam masyarakat pun telah tumbuh sebuah persepsi tekait ambang batas kolektif mengenai bencana. Persepsi itu telah menerima banjir bukanlah merupakan gejala luar biasa, hanya sebuah peristiwa yang masih dibawah ambang batas. Persepsi itu termanifestasikan menjadi sabar.

Perisiwa itu telah diterima sebagai konsekuensi hidup sehari-hari layaknya macet, penodongan, bersesak-sesakan di dalam bis, polusi, kebisingan dan perilaku sejenisnya. Anggapan seperti ini telah meniscayakan bahwa segala peristiwa tersebut hanyalah rangkaian sirkular kewajaran dari pengalaman hidup sehari-hari.

Hasilnya, masyarakat sudah terjebak di dalam le strategie de fatale-nya Baudrillard. Masyarakat sudah terjebak dalam mentalitas nrimo yang akut.

karena semua ada batasnya
 Harus sampai pada peristiwa seperti apakah sehingga ke-diri-an kita merasa terusik?

No comments:

Post a Comment