Apologi

  • 0
Mendekati hari Pemilu legislatif yang tinggal 4 hari lagi ini sudah dipastikan bahwa adrenalin para caleg dan partai politik akan semakin berdesir dan berpacu naik. Televisi-televisi pun telah sesak dijejali iklan-iklan poltik dari partai peserta Pemilu yang padat berseliweran sejak 16 Maret lalu. Entah berapa dana yang disediakan dan dari mana, masyarakat agaknya tak ingin tahu menahu.

Berbicara mengenai masyarakat, sebagian besar pengamat mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sudah cerdas dalam menggunakan hak pilihnya. Mungkin pernyataan ini lahir seiring dengan fenomena pertumbuhan masyarakat kelas menengah di negeri ini. Kelas menengah bisa digambarkan sebagai kaum proletar yang naik kelas dan tercerahkan secara intelektualitas.

Masyarakat kelas ini setidaknya sudah pernah merasakan bagaimana hidup sebagai korban kebijakan politik yang tidak pro-rakyat. Lalu dengan meningkatnya kapasitas berpikir itulah yang kemudian menyebabkan masyarakat kelas ini semakin tidak mudah dibohongi dengan janji-janji politik dari partai peserta pemilu. Akumulasi kekecewaan masa lalu itulah lalu dimanisfestasikan dalam bentuk Golput alias tidak memilih.

***

Menjadi golput pada dasarnya adalah hak, dan karena itu seseorang berhak untuk memilih atau tidak. Walaupun begitu, setidaknya pilihan tersebut haruslah dilandasi pertimbangan rasional. Ada baiknya kita tanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri, apakah kita menjadi Golput karena faktor emosional atau karena memang pilihan itu bisa dipertanggungjawabkan secara rasional?

Kita tahu bahwa demokrasi tidak bisa dikatakan berhasil apabila Pemilu yang diadakan hanyalah melahirkan wakil-wakil yang tidak baik dan tidak amanah. Kondisi seperti ini bisa dianalogikan seperti dalam dunia komputer. Dalam dunia komputer, dikenal istilah Garbage In Garbage Out atau lebih dikenal dengan GIGO. Istilah ini dipakai untuk menunjukkan bahwa sebuah basis data dengan data yang tidak benar tidak akan bisa menghasilkan informasi yang benar.

Seperti itupula adanya Pemilu. Bila kita memasukan data atau dalam hal ini memilih calon legislatif yang salah (input yang salah), maka dapat dipastikan maka luaran yang dihasilkan pun akan menjadi salah (output yang salah).

Disinilah kita bisa bertanya, bagaimana kita ingin memperoleh output apabila kita tidak pernah melakukan proses peng-input-an data, dalam hal ini yaitu golput?.

Kita semua tentu ingin negara ini baik. Negara ini baik hanya bisa dihasilkan melalui proses politik yang berjalan didalamnya juga baik. Karena itu data yang diinput juga haruslah baik. Disinilah peran rakyat dibutuhkan yaitu sebagai user peng-input data-data yang baik.

Di zaman internet seperti saat ini, eksistensi manusia bisa diukur dengan keterindeksannya oleh Google. Orang berkata, “Aku terindeks Google, maka aku ada”. Track record seseorang sudah bisa diidentifikasi melalui jejak digitalnya di dunia maya.

Begitupula dengan rekam jejak kehidupan para caleg. Kita sudah disediakan tools berupa Google, memanfaatkannya secara efektif pun bisa dikatakan bukan lagi sebuah kemustahilan. Setidaknya istilah “tidak ingin memilih kucing dalam karung” pun bisa dikatakan sudah semakin tidak relevan untuk digunakan sebagai alasan untuk tidak memilih.

***

Pada akhirnya semua keputusan berpulang pada diri masing-masing bahwa setiap orang berhak untuk menjadi golongan pemilih atau menjadi golongan putih. Yang tersisa hanyalah pertanyaan, sudahkah kita rasional dalam menentukan pilihan tersebut?

No comments:

Post a Comment