Membahas Pemilu (Seolah-seolah)

  • 0
golput diantara pasukan pemilih siap terima serangan fajar

Pemilihan umum untuk legislatif akhirnya telah digelar tanggal 9 April tadi. Walau TPS ada di dekat rumah tapi golput tetap masih menjadi pilihan. Tapi walau Golput, tidak berarti kita tidak dibolehkan untuk turut menyimak jalannya Pemilu tadi kan?

Sejauh ini ada beberapa catatan yang bisa saya simpulkan dari Pemilu tadi. Bisa saya sebut bahwa proses demokrasi kita yang tercermin dari Pemilu tahun ini masih prematur, karena:

1) Ruang publik, dalam hal ini berupa lembaga penyiaran, yang harusnya bertanggungjawab dalam memberi informasi yang utuh dan jelas kepada para pemilih mengenai seluk beluk pemilu serta tata caranya telah dikomodifikasi, dipolitisasi dan tidak independen. Akhirnya apa, yang ada hanya tayangan-tayangan pertarungan yang terlalu mendukung atau terlalu memojokkan antar masing-masing calon. Persis cara-cara primitif.

2) Banyaknya keluhan dari para pemilih yang menjadi golput karena sistem (Golput by system). Sistem yang dimaksud adalah sistem yang mengatur tentang mekanisme pindah DPT bagi pemilih yang tidak berada di daerah asal pada hari pemungutan suara. Informasi yang simpang siur dan tidak terpahaminya aturan baku yang menjadi panduan bersama oleh masing-masing lembaga (RT, RW, Kelurahan, KPU) menyebabkan masyarakat  yang berhasrat tinggi untuk memilih akhirnya harus gigit jari karena salah prosedur dalam mendaftar untuk menjadi pemilih. Jangan salah, kelompok pemilih kategori ini jumlahnya sangat banyak, utamanya mahasiswa. Jadi, justifikasi mengenai Golput adalah sekelompok orang yang apatis adalah tidak valid.

3) Proses pemilu bagi para pemilih, khususnya para pemilih pemula, masih bersifat formalitas dan sekedar ikut arus dalam euforia pemilu. Pengetahuan politik serta kapasitas nalar belum bisa diharapkan menjadi dasar dalam menentukan pilihan. Jadi dasarnya apa? Biasa alasannya klise seperti ikut pilihan keluarga, kena serangan fajar, atau ada bagi-bagi doorprize di TPS. Suaranya memang sah, tapi esensi dari Pemilu tidak didapat. Pemilu seperti ini tidak ubahnya seperti tayangan gosip di TV. Merayakan omong kosong.

Memang sih, demokrasi kita katanya masih berusia muda, masih berusia 16 tahun terhitung sejak runtuhnya Orde Baru. Tapi itu tidak berarti demokrasi harus memaklumi buruknya kesiapan lembaga penyelenggara serta rendahnya rasionalitas politik pemilih sebagai sebuah kewajaran dan terus dibiarkan berlarut-larut. Hal ini bisa menjadi bom waktu bagi demokrasi itu sendiri. Jangan sampai negara kita menuju negara auto pilot, tanpa pemimpin yang benar-benar bisa memimpin. (*)

NB: Tulisan ini seolah-olah serius. Padahal bohong. :)

No comments:

Post a Comment