Fakir Empati

  • 0
BBM naik lagi, setelah awal tahun turun setelah naik sebelum awal tahun (masyaallah). Seperti biasa, di TV muncul dua kubu. Kubu pemerintah dan kubu rakyat (masyaallah lagi). Seperti biasa, wawancaranya terbagi dua kubu, Pro dan Kontra (holy syit).

Jangan berharap ada empati disana. Kalaupun kau masih percaya bahwa pemerintah akan berempati kepadamu selaku representasi rakyat-kelas-menengah-ke-bawah-yang-masih-merasa-cemas-karena-fluaktuatifnya-harga pete-pete-dan-harga-nasi-telur-pondokan-yang-sewaktu-waktu-naik-karena terjebak-logika-harga-BBM-itu, maka ingatlah pesan bijak bestari eksistensialis Albert Camus bahwa kematian orang lain biasanya tidak berdampak apa-apa bagi seseorang. Kematian baru menyentuh perasaan manusia ketika kematian itu berhubungan dengan dirinya sendiri secara langsung.

*) Kematian bisa diganti dengan kata lain sesuai kebutuhan, bisa harga BBM, harga cabe, harga beras, harga angkot, harga rumah, iuran sekolah, hingga seterusnya.

No comments:

Post a Comment