Bedah buku sebagai ajang temu sekumpulan snob yang mendaku sebagai sastrawan lokal

  • 0
Semalam kau pergi ke semacam bedah buku puisi begitu. Kau tahu, kau tidak peduli dengan acara semacam itu. Memangnya sejak kapan kau suka puisi? Tiap orang punya selera dan kau tahu bahwa puisi memang terlahir bukan untuk kau sukai, setidaknya hingga saat ini. Lantas mengapa kau mau pergi ke acara tersebut? Tidak lain tidak bukan adalah karena kau kurang hiburan. Kota ini memang bukan kota budaya, tidak seperti kota di pulau Jawa sana. Disini yang kau akan dapat hanyalah orang-orang yang rela beranas-panas didalam macet di siang hari dan kemudian menutup rapat-rapat pintu rumahnya pada malam hari. Hiburan mereka hanyalah hiburan yang diproduksi televisi, selebihnya tidur.

Kau tahu, acara bedah buku apalagi buku puisi begini tidak akan dihadiri sembarang orang. Apalagi kalau penulisnya dijuluki sebagai sastrawan muda. Pastilah menjadi magnet bagi orang-orang yang, kau tahu, gemar sastra. Untuk mendeteksi orang-orang seperti mereka itu gampang sekali. Fashion statement-nya jelas terbaca, seperti kemeja kotak-kotak flanel dan topi ala Sapardi Djoko Damono atawa topi militer ala Fidel Castro. Pokoknya yang lagaknya mirip sastrawan-sastrawati begitulah. Bukannya keren, malah jadi kayak plastik.

Kau tahu, acara bedah buku puisi begitu siapa yang hadiri? Mayoritas adalah orang-orang yang ada dalam lingkaran pertemanan penulisnya. Makanya acara semacam begini jatuhnya jadi mirip acara tudang sipulung sekumpulan snob yang mendaku sebagai aktivis sastra lokal. Mereka sebenarnya tidak salah, tapi jatuhnya jadi kasian sih. Acara yang harusnya jadi temu kenal antara penulis dan pembaca, malah jadi kayak acara reuni anak SMA. Riuh dan ribut sambil sesekali fokus pada penampil. Apa coba. Kau lihat kan, tadi malam hanya ada satu orang cewek yang datang memang karena ia adalah penggemar sang penulis. Ia datang bawa buku dan minta foto bareng. Orang-orang seperti inilah yang harusnya datang di acara bedah buku. Orang-orang seperti ini bisa kau lihat dari matanya. Yang sepanjang acara memang fokus untuk tahu lebih dalam mengenai bukunya. Orang-orang seperti ini yang harus dihargai. Alih-alih kau hanya fokus bercengkrama dengan teman-teman satu lingkaranmu, harusnya ia yang kau perhatikan, hai Sastrawan Muda...!!

No comments:

Post a Comment