5 film yang perlu ditonton saat sedang menunggu

  • 0
Pekerjaan menunggu memang pekerjaan yang meletihkan. Kalau tidak begitu, tidak mungkin Ribas akan menciptakan lagu dengan tema begini. Begitu begini apa coba. Seperti duo serigala, aktivitas menunggu juga punya partner-in-crime, namanya ketidakpastian. Bila dinamic duo ini sudah bertemu, maka alangkah baiknya bila energi menunggu kita tidak dihamburkan-hamburkan pada aktivitas yang keji, munkar, gokil, dan menghamburkankan uang. Sebab sebaik-baiknya aktivitas adalah yang murah dan jauh dari dosa. Anjuran untuk perbanyak nonton film ada baiknya diaplikasikan pada momen-momen seperti ini, dengan syarat tentunya nonton yang dimaksud adalah nonton di laptop.

Lima film yang ditulis di bawah ini merupakan pilihan yang saya rasa cocok untuk mengisi waktu produktif yang kau sia-siakan selagi menunggu. Semuanya rekomended, asal kau satu selera sama saya. Ok cekidot.

1. Deadpool (2016)


Suatu hari, di waktu yang sudah lumayan lama, saya dan teman-teman sepakat untuk ke bioskop menonton film ini. Ternyata, di dalam bioskop banyak anak-anak. Wow. Hanya orang tua yang bebal yang masih tetap ngeyel membawa anaknya nonton film ini. Berkali-kali kan sudah diperingkatkan kalau ini film dewasa berkonten sadis dan vulgar. Tapi yang namanya kenyataan yah tetap tak seindah harapan. Masa bodoh dengan anjuran kaum moralis dan agamis. Mereka sebetulnya cuma tidak punya uang saja datang ke bioskop. Dasar.

Nyatanya, film ini memang tidak cocok ditonton di bioskop. Kenapa begitu? Karena di bioskop banyak adegan yang tidak lolos sensor. Mengikuti logika LSF, bagaimana cara film ini dipotong, sementara isinya hampir setengah begitu? Ya sudah, di-zoom saja. Jadinya di layar bioskop kita nonton adegan-adegan yang di-zoom. Apa coba. Ya, jelas tidak asik. Makanya, nontonlah di laptop.

2. Edge of Tomorrow (2014)


Film ini bagus dan keren. Kalau tidak percaya, coba nonton. Tetapi seperti yang dikatakan Maria Sharapova, "I can't please everyone. That's not in my J.D., you know, not in my job description" ternyata ada juga orang yang tidak suka dengan film ini. Orang tersebut saya dapatkan di kolom komentar di blog resensi film.

Berdasarkan penerawangan, kira-kira ada dua hal mengapa itu orang tidak suka film ini: Pertama, dia tidak suka main game. Kedua, dia tidak suka nonton film. Alasan pertama mungkin bisa diterima, sebab cerita film ini seperti main game. Restart berulang-ulang hingga menjadi mahir. Yang pernah main game Mario Bros sampe tamat pasti paham ini. Alasan kedua yang sebenarnya harus dipertanyakan, "kenapa nonton film ini?"

3. Baran (2001)
Film ini dari Iran. Ngomong-ngomong film Iran, saya pernah dibilang Syiah sama sepupu sendiri. Penyebabnya, sewaktu dia datang di kamar bertepatan dengan saya yang sedang nonton film A Separation. Kalau saya psikopat, mungkin sudah saya kapak kepalanya. Untungnya dia belum lihat koleksi film-film Iranku di harddisk, bisa-bisa saya sudah dilaporkan ke ikhwan dan akhwat HTI biar dicap sesat.

sesat gundulmu..
Padahal, film ini sendiri sebenarnya satu mazhab dengan film Serendipity (2001) atau Sleepless in Seattle (1993). Yang membedakannya cuma pemain, sutradara dan krunya. Yap, anda benar, ini cuma film drama romantis. Jadi pesan buat kawan-kawan yang sepaham sama sepupuku: film itu dinilai dari isinya, bukan dari negara pembuatannya. So, jangan jadi bigot, plis.

4. Speed (1994)
Saya punya teori, semua film yang dibintangi Keanu Reeves sebelum tahun 1999 itu terjadi di dalam Matrix. Percaya atau tidak sih. Makanya di film ini dia mirip Azrax begitu. Lompat kiri, lompat kanan tidak takut mati. Kan di dalam Matrix. Seperti itu.

Azrax
 5. The Age of Adaline (2015)
Ada tiga opsi bila disambar petir. Pertama, mati hangus. Kedua, jadi Flash. Ketiga, jadi Adaline. Sebenarnya opsi pertama yang lebih mendekati kenyataan. Tapi berhubung ini fiksi, maka opsi kedua dan ketiga bisa jadi terjadi.


Sebenarnya tidak enak menjadi Adaline. Dia pasti malu kalau ke reunian sekolah. Bukannya apa, teman-temannya secara sudah tua, tapi dia masih muda-muda saja. Kan jadi awkward begitu. Kalau saya sarankan, coba Adaline perdalam agama Islam, siapa tahu bisa kayak Nabi Khidir. Btw, untungnya Adaline tidak ditangkap Stryker. Kalau iya, bisa-bisa dia jadi Wolverinewati.

No comments:

Post a Comment