Cerita tentang Kenro dan Marni

  • 0
Koran pagi ini diisi dengan berita Pilkada serentak. Mengingat tahun 2017 sisa memasuki dua bulan lagi, rasa-rasanya sudah sah berita model seperti itu menghiasi headline-headline semua koran di Indonesia.

Kenro hari ini sedang ogah-ogahan membaca isi koran yang semuanya berisi berita Pilkada tersebut. Bukan apanya, persoalan Pilkada memang isu yang panas. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan isu agama. Debat di ILC tempo hari kembali terngiang di pikirannya. "Sekularisme memang jalan terbaik", pikirnya. Bolak-bolak halaman koran, perhatiannya tertumbuk pada kolom obiatuarium. "INNALILLAHI WA INNAILAHI RAJIUN. TELAH MENINGGAL KAKEK KAMI ATAS NAMA YANTO. TURUT BERDUKA CITA" tercetak tebal-tebal disitu.

"Obituarium macam apa ini? Kenapa pulak nama Yanto ini.. Yanto siape lu?" sungut Kenro sambil membanting koran tersebut. Yanto, sebuah nama yang terdengar woles memang, mengingat saat ini dunia sedang dijejali dengan nama-nama generasi Z yang njlimet dan tidak muat bila ditulis utuh pada kolom isian nama di LJK. Kenro tidak mau ambil pusing lebih lanjut. Perasaannya sedang jengkel. Semalam dia baru putus dari pacarnya.

Hal-hal aneh memang kadang terjadi dalam hidup. Contohnya seperti kejadian semalam yang membuat Kenro sebagai salah seorang dari 2,2 juta followers akun instagram stasiun luar angkasa internasional (ISS) mendadak berpikir bahwa 915 foto dan video yang diunggah akun tersebut masih belum cukup untuk menyadarkan orang-orang seperti Marni, kekasih yang sudah setahun ini menemaninya.

Kenro mengakui bahwa Marni orangnya agak unik. Pertemuan keduanya pun terjadi secara unik. Selasar sempit menuju kantin kampus menjadi TKP-nya. Keduanya tidak sengaja berpapasan jalan dan kemudian terjadilah apa yang disebut parallel synchronized randomness. Kalau Kenro tidak berinisatif untuk berhenti bergerak, secara matematika kejadian random mereka berdua itu bisa berlangsung sampai hari kiamat. Setelah kejadian hari itu, mereka berdua jadi akrab dan tidak lama kemudian sepakat untuk pacaran.

Menurut Kenro, Marni memang tergolong orang yang mudah percaya dengan informasi dari internet. Apalagi kalau info tersebut sudah dibagi oleh teman facebooknya. Peer presure memang lagi genit-genitnya berkembang terlebih pada zaman media sosial seperti saat ini. Makanya ada hadits Nabi, bila berteman dengan penjual minyak wangi akan mendapat bau harumnya, berteman dengan pandai besi akan mendapat bau asapnya.

"Cinta memang tidak harus selalu rasional", seperti kata salah seorang motivator bijak di TV.

Kenro sebenarnya sepakat dengan si motivator bijak itu. Tapi masalahnya kejadian seperti ini sudah pernah terjadi. Kenro masih ingat jelas waktu Marni bilang akan mendalami agama Jediisme beberapa hari setelah mereka berdua nonton The Force Awakens, seri ke-7 dari franchise Star Wars, di bioskop. Entah wangsit dari mana hingga Marni berpikir sejauh itu. Untungnya penganut Jediisme di Indonesia tidak terdeteksi, sehingga Marni mengurungkan niatnya untuk bergabung.

"Kamu tidak takut FPI?" tanya Kenro

"Takut sih.." jawab Marni.

"Kalau bisa terlahir kembali, saya akan pilih lahir di Inggris, disana negara dengan penganut Jediisme paling banyak plus tidak ada ormas intoleran kayak disini", tambah Marni seperti tak berputus asa.

Untungnya setelah percakapan itu selesai, selesai pulalah keinginan Marni untuk menjadi pengikut Jediisme. Status quo itu terus bertahan, sampai kemudian muncul video Flat Earth di Youtube. Sialnya, Marni sudah nonton dan tak dinyana ia percaya dengan isi video itu dan menyatakan ingin bergabung dengan Flat Earth Society.

Kenro tidak habis pikir, komunitas yang berisi sekumpulan skriptualis ekstrim ini harusnya sudah musnah di tahun 2000an setelah markas besarnya di Lancaster terbakar. Eh sekarang muncul lagi, sampai-sampai memicu perdebatan panas antara dia dengan Marni.

"Daripada nonton video ndak jelas begitu, mending nonton serial Cosmos-nya Carl Sagan sana. Itu baru sains" nasehat Kenro kepada Marni. Bukan apanya, baginya ini sudah masuk ranah prinsipiil. Kedunguan dan kebebalan adalah dua hal yang tidak bisa ditolerir olehnya.

"Lah, memangnya kamu sudah nonton belum video flat earth?" balas Marni

"Belum sih, ngapain coba. Kalaupun saya nonton paling cuma sekedar mencari hiburan. Kayak nonton penjual obat di pinggir jalan. Kita semua tau itu hoax, tapi kadang menyenangkan juga kalau ditonton."

"Alaah.. jangan sok pintar kamu!"

"Begini, sejak 2200 tahun lalu Erathostenes sudah buktikan kalau bumi itu bulat. Kemudian 44 tahun lalu Apollo 17 sudah berhasil memfoto bumi dengan sempurna. Dan sekarang di tahun 2016 kamu masih percaya dengan pseudosains macam begitu?"

"Sok tau kamu..."

"Kita putus aja ya.."

No comments:

Post a Comment