Lagu

  • 0
Bagai semacam nubuwat dari dasar samudera untuk para penggalau sejati. "Saat senang, yang didengar musik; saat sedih yang dibaca liriknya". Seperti itulah fenomena musik yang selalu diam-diam kita amini, namun selalu kita tolak untuk terang-terangan akui. Realitanya, bahwa kesedihan itu memang paling terasa nikmatnya saat diiringi dengan alunan lagu. Tak perlu khawatir, yang tertulis, semua sudah tertuliskan, kata sutradara Jafar Panahi. Jadi apapun jenis kesedihan yang kau rasakan, dari putus cinta sampai habis duit, semua sudah tersusun dalam untaian lirik-lirik penyokong rasa sakit. Semacam soundtrack untuk  kehidupan. Semua sudah ada daftar lagunya.

Adalah seorang yang sedih karena ditinggal nikah. Kira-kira lagu apa yang tepat? Kalau ada yang bertanya seperti demikian, maka kiranya saya boleh memberi rekomendasi agar mendengarkan lagu dari salah satu maestro dangdut 90-an, Ona Sutra. Kalau kau rasa nama ini asing, memanglah tepat adanya. Oleh karena itu, daripada sia-sia mengorek ingatan masa kecil, coba bukalah Yutub dan ketik di kolom pencarian kata kunci Ona Sutra Bukan Dia. Setelah itu coba dengarkan seksama sambil memakai headset di dalam kamar sendirian. Sebagai peringatan, efek yang dirasakan akan terasa berbeda-beda pada tiap individu, tergantung dari level sakit yang dialami.

PS: Saya kemarin dengar ada orang yang menangis sewaktu dengar lagu ini. Padahal saat itu kondisinya ia lagi ditengah keramaian acara kumpul-kumpul. Lagu ini rupanya sakti sekali.



Rutinitas

  • 0
Maunya buat tantangan menulis 30 hari menulis surat terbuka begitu. Tiap di jalan selalu kepikiran satu ide tulisan. Masalahnya adalah sampai di rumah ide tersebut menguap. Yang tersisa hanya maunya. Yang tersisa setelah itu adalah kembali ke awal paragraf.

Beberapa bulan ini setelah sibuk, saya makin jarang nonton TV, main twitter, blog walking, baca buku apalagi. Rutinitas kerja telah menelan itu semua. Menelan semangat, menelan kreativitas, menelan rasionalitas. Memang racun.

Berbahagialah mahasiswa dan orang-orang di penjara. Punya banyak waktu untuk kontemplasi.

NB: Saya kayak sibuk sekali. Padahal cuma rasa malas dan kuota mahal yang buat saya jadi begini.

Heboh Fildan

  • 0
Malam ini yang ada hanyalah hujan. Ada juga suara tetangga lamat-lamat terdengar. Entah apa yang dibicaarkan. Malam ini seharusnya ada suara fildan dari loundspeaker yang saya tak tahu dari mana arah sumber suaranya. Yang pasti suara itu terputar dari atas bukit. Jadi bisa terdengar oleh orang-orang yang telinganya masih normal di bawah sini. Tapi malam ini rupanya pemiliknya lagi istrahat. Entah karena cuaca atau rusak. Mudah-mudahan sih rusak. Bukan karena sudah muak, tapi lebih karena kami juga punya koleksi yang sama dengan anda wahai bapak pemutar-lagu-fildan-sampai-tengah-malam. Jadi tidak perlu diputar keras-keras. Kami juga kalau mau bisa seperti bapak. Tapi nyata kan tidak. Kami lebih suka dengar lagu Fildan dengan volume normal. Bapak saja yang heboh. Nyantai aja keles, pak.



Gerakan Omong Kosong


Teman-teman fesbuk ada yang mengkampanyekan gerakan literasi. Baru sekarang di tahun 2017 ini. Harusnya gerakan begini mati saja. Tidak ada gunanya menulis-menulis. Orang-orang tambah bangsat. Orang di fesbuk bangsat. Orang di twitter bangsat. Semua jadi jago agama. Mengucap halal haram semudah makan mandi dan tidur. Semua jadi moralis. Paling gampang menunjuk-nunjuk orang salah ini salah itu. Padahal belajar cuma dari video yutub yang naudzubillah kayak dia saja yang paling benar sendiri. Sudah lupakah dengan pepatah saat satu jari telunjuk diarahkan pada orang lain, maka empat jari lainnya mengarah pada diri kita sendiri?.

Bulan-bulan penuh kesabaran

  • 0
Tunggu

Menunggu

dalam bulan-bulan penuh kesabaran