Trilogi Begal: Peluru

  • 0
Tidak ada yang mau mati dengan cara tidak wajar. Saya kira kita semua sudah cukup diberi edukasi melalui serangkaian film-film kelas B bergenre erotic horror dan sexploitation produksi tahun 80an. Cukup sekali saja kita mengalami pengalaman menonton yang menohok seperti itu.

Sayangnya kau tidak pernah belajar dari pepatah, "setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah". Kau tau, jenis-jenis film begitu tidak melulu berupaya untuk merusak memori indah masa kecilmu. Film seperti itu sebenarnya bisa dilihat dengan menggunakan perspektif spritual-moralistik, dimana selalu berisi pesan moral bahwa yang jahat akan mati menggenaskan. Kau tidak mau kan mati karena ada akar tumbuh di dalam lambungmu dan membuat isi perutmu berhamburan?

Masalahnya kemudian, di kehidupan nyata kejadian metafisik seperti itu mustahil terjadi. Yang terjadi adalah kalau kau penjahat, maka kemungkinan besar kau akan diburu polisi. Dan kau taulah, jangan sekali-kali melawan polisi. Mereka punya pistol. Tidak kayak kamu yang cuma bermodal Dasa Dharma pramuka dan alih-alih berupaya melawan saat akan ditangkap. Jadilah kau mati menggenaskan di ujung bedil. Berhubung kau bukan Pitung, maka kau mati dengan cap penjahat besar di jidat. Selamat.

No comments:

Post a Comment