Perjalanan Panjang Berkenalan dengan Buku

Tadi malam, saya mendengar podcast dengan narasumber dari komunitas gerakan literasi di kota saya. Mereka adalah anak muda kelahiran sekitar tahun 1996, generasi yang tumbuh besar pasca reformasi. Salah satu dari mereka bercerita bahwa kegemarannya membaca baru tumbuh setelah SMA. Temannya yang lain bahkan baru lima tahun belakangan ini mulai suka membaca buku. Saya cukup kaget mendengarnya.

Masa SD: Gemar Baca Karena Bobo

Saya lalu membandingkan dengan diri saya sendiri yang sejak SD sudah mengenal majalah Bobo dan majalah anak lainnya. Dari situ, saya mulai berpikir dan berhipotesis: ternyata kehidupan pasca Krisis Moneter 1997 sangat memengaruhi minat baca seseorang. Sewaktu SD, saya masih hidup di beberapa tahun sebelum reformasi. Mungkin dulu harga majalah masih terjangkau. Orang tua saya 'hanya' seorang PNS—kau tahulah, gaji PNS zaman Orde Baru kecil sekali—tapi di rumah kami semua memiliki bacaan langganan. Bapak saya membaca majalah Hidayatullah, ibu saya langganan majalah Nova, dan kami, anak-anaknya, menikmati majalah Bobo. Tradisi langganan ini bahkan sudah ada sejak sebelum tahun 1990, ketika kakak saya masih kecil.

salah satu edisi bobo yang masih saya ingat pernah punya
(No. 52, tanggal 4 april 1996)

Namun, datanglah Krisis Moneter (krismon) tahun 1997. Harga barang-barang tiba-tiba melonjak, termasuk harga majalah. Saya masih ingat, ibu saya suatu hari memberi tahu bahwa itu adalah majalah Bobo terakhir saya, karena harganya naik menjadi Rp5.000,00 (karena saya di kota kecil di Sulawesi, jadi harganya beda dengan di Jawa). Jika dihitung dengan kalkulator inflasi, uang sebesar itu pada tahun 1999 setara dengan sekitar Rp20.000,00 saat ini. Setelah saya cek, harga majalah Bobo pada Maret 2025 sekitar Rp16.000,00 di toko online. Kenaikan harga ini rupanya cukup berat bagi orang tua saya, apalagi dengan gaji PNS yang harus disesuaikan dengan harga kebutuhan pokok yang juga ikut naik. Akibatnya, membaca yang sebelumnya termasuk kebutuhan sekunder, turun menjadi kebutuhan tersier, bahkan mungkin kuartener. Langganan majalah pun terpaksa dihentikan.

Untungnya, setelah masa reformasi, muncul fenomena rental buku dan komik. Ini bisa dibilang semacam blessing in disguise. Selain rental buku, juga ada rental VCD dan tempat penyewaan lainnya. Akses saya terhadap bacaan tidak benar-benar terputus.

Masa SMP: Berkenalan dengan Rental Buku

Tahun 2001-2004, masa SMP saya adalah masa pasca reformasi. Usaha rental mulai menjamur. Dari sinilah saya mulai mengenal komik. Saat SD, saya belum tahu banyak tentang komik, tapi SMP adalah awal perkenalan saya dengan Samurai X, Doraemon, Dragon Ball, Kungfu Boy, Shinchan, dan yang paling berkesan: Detektif Conan. Selain itu, saya juga mulai membaca novel, terutama Harry Potter, yang pada masa itu sedang booming.

Perpustakaan sekolah juga cukup membantu. Saat saya masuk SMP, sekolah saya baru saja mendapatkan koleksi lengkap Lima Sekawan. Buku-buku ini sering saya pinjam, meskipun sayangnya koleksi itu perlahan menghilang karena banyak yang tidak dikembalikan, atau mungkin langsung dicuri. Saya juga mengenal majalah dinding (mading) di masa ini, meskipun dulu saya hanya melihat-lihat tanpa benar-benar membaca, karena isinya lebih banyak tentang kisah cinta khas anak SMP.

Masa SMA: Era Majalah Musik

Tahun 2005-2007, saat SMA, saya mulai mengenal majalah anak muda. Saya sering membaca majalah Aneka Yess! milik sepupu. Saking sukanya, saya sampai rela sering berkunjung ke rumahnya hanya untuk bisa membacanya.

Namun, bagi saya, masa ini lebih banyak diisi dengan membaca komik dan, yang paling berkesan, majalah kord gitar. Masa-masa ini saya mulai serius belajar gitar, dan saat itu memang masa subur terbitnya majalah-majalah kord gitar. MBS dan sejenisnya. Ada seorang teman saya yang bahkan membeli majalah kord gitar hanya untuk dipamerkan kepada kami, tapi tidak mau meminjamkannya. Haha, benar-benar menyebalkan.

Masa Kuliah: Kenal Internet dan Ebook Bajakan

Tahun 2007 ke atas adalah masa kuliah saya. Ini adalah masa yang cukup berat. Saya merantau dan tidak memiliki banyak uang. Bacaan saya yang dulu ada di rumah kini terasa jauh. Di kota Makassar, saya hanya fokus kuliah dan tidak punya uang untuk membeli buku, bahkan buku kuliah. Sebagian besar hanya bisa saya fotokopi.

Zaman ini juga bertepatan dengan berkembangnya internet dan warnet. KASKUS mulai populer, dan akses bacaan bergeser dari buku ke internet. Masa ini juga awal mula kemunculan Friendster dan Facebook, yang semakin menjauhkan saya dari kebiasaan membaca buku. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dan membaca diskusi di forum KASKUS.

Di masa ini juga, novel islami menjadi tren berkat booming-nya film Ayat-Ayat Cinta yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Banyak novel bertema islami mulai bermunculan, seperti karya-karya Habiburrahman El Shirazy, sebut saja Ketika Cinta Bertasbih, Cinta Suci Zahrana, dan sebaiknya. Selain genre islami juga muncul seperti novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. 

Di semester lima, saya sempat bergabung dengan HMI dan mulai mengenal buku-buku filsafat serta ideologi. Saya membaca pemikiran Cak Nur, Wahib, dan Soe Hok Gie. Namun, karena saya bergabung hanya karena ikut-ikutan senior, saya tidak terlalu aktif. Dampaknya, saya tidak merasa terdorong untuk benar-benar membaca buku-buku tersebut. Saya hanya mengoleksi banyak ebook bajakan, tapi hampir tidak ada yang saya baca tuntas. Kalaupun sempat membaca beberapa, tidak sampai memahami secara mendalam.

Masa S2: Kembali ke Buku Fisik

Saat melanjutkan S2, ada arus balik dalam kebiasaan membaca saya. Karena mendapat beasiswa, otomatis saya memiliki uang buku. Saya kuliah di Surabaya, di mana akses ke toko buku lebih mudah. Saat itu, toko buku online mulai bermunculan di Facebook, dan kombinasi antara memiliki uang serta ongkir yang murah membuat saya kalap membeli buku. Hampir setiap minggu saya membeli buku secara online, sampai-sampai kurirnya hafal dengan saya. Suatu kali, saya bertemu kurir di jalan, dan ia langsung menyerahkan buku pesanan saya tanpa harus ke kosan. Disinilah saya juga sering ke pasar buku di Jalan Semarang setiap minggu untuk hunting buku.

Sayangnya, banyak buku yang saya beli justru tidak saya baca. Saya mungkin terdorong oleh rasa ingin balas dendam karena di masa kuliah S1 sulit mendapatkan buku. Jadi, saya membeli buku hanya karena merasa bagus, tanpa benar-benar membaca semuanya. Ketika saya selesai kuliah, kamar kos saya penuh dengan buku. Saat packing pulang ke kampung, ada empat dus besar berisi buku saja.

Masa Bekerja (Pra-Nikah): Bergabung Ke Taman Baca Komunitas

Saat mulai bekerja, kebiasaan membeli buku masih berlanjut, terutama ketika saya masih lajang. Namun, kali ini fokus saya bergeser ke buku-buku pemikiran Islam. Saya mulai mengoleksi karya-karya Gus Dur, Cak Nur, dan Quraish Shihab. Saya juga mengumpulkan beberapa buku dari KH Ali Mustafa Yaqub.

Di masa ini, saya juga tergabung dalam sebuah komunitas literasi—sebuah taman baca komunitas yang berfokus menyediakan buku bacaan untuk anak-anak. Banyak pengalaman seru selama terlibat di komunitas ini, mulai dari menggelar lapak baca, diwawancarai oleh radio lokal, mengadakan seminar kepenulisan, hingga menerbitkan buletin anak-anak.

Sayangnya, kini komunitas ini seperti hidup segan mati tak mau. Taman bacanya sih masih menerima pengunjung, tetapi tidak lagi seaktif dulu. Orang-orang yang dulu terlibat di dalamnya kini telah berpencar ke berbagai tempat. Dulu kami sangat aktif, mungkin karena semuanya masih menganggur. Sekarang, pemiliknya sibuk berjualan, anggota lainnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan saya sendiri sudah pindah ke kota lain karena pekerjaan dan pernikahan. Kenangan yang menyenangkan—good old days, memang.

Masa Berkeluarga: Menurunkan Hobi Baca Ke Anak

Seiring berjalannya waktu, setelah menikah dan memiliki keluarga, frekuensi membeli buku mulai berkurang. Sekarang saya lebih sering membeli buku untuk anak, karena saya ingin menurunkan kebiasaan membaca sejak kecil, seperti yang dulu orang tua saya lakukan untuk saya. Saya percaya bahwa membaca sejak dini akan membawa manfaat besar di kemudian hari.

Saya ingin anak saya tumbuh dengan kecintaan terhadap buku, sehingga saya mulai membiasakan membacakan cerita sebelum tidur. Rak buku di rumah kini mulai terisi dengan buku anak bergambar warna-warni. Saya juga mulai sering mengunjungi toko buku bagian anak, mencari buku yang menarik dan sesuai dengan usianya.

Selain itu, saya juga mencoba memperkenalkan kebiasaan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan. Saya tidak ingin anak saya merasa terpaksa membaca, tetapi lebih kepada melihatnya sebagai kegiatan yang mengasyikkan. Kadang, saya dan anak saya membaca bersama, bergantian bercerita, atau sekadar melihat-lihat gambar di buku. Saya berharap, kelak ia akan memiliki kenangan yang sama seperti yang saya miliki dulu—tentang bagaimana buku menjadi bagian dari perjalanan hidup.


Post a Comment for "Perjalanan Panjang Berkenalan dengan Buku"