Hilang Diri

  • 0
Kalau Marx hidup lagi di tahun 2015, mungkin beliau akan menambahkan sabdanya bahwa bukan cuma agama yang menjadi candu, tetapi juga media sosial.

Saat manusia di dunia nyata mengalami banyak pertikaian dan pergumulan yang sengit dan frontal dengan manusia-manusia lain untuk menampilkan eksistensinya, media sosial menawarkan jalan baru. Media sosial menawarkan bahwa untuk menunjukkan eksistensinya, seorang manusia tidak perlu berkonflik secara langsung dengan manusia lain. Manusia hanya perlu membuka selubung ruang privatnya. Analoginya seperti ikan dalam aquarium bening. Siapapun boleh dan sah memandang. Yang hadir adalah bagaimana cara merebut perhatian yang lebih dibanding orang lain. Karena kalau tidak tertarik, masih banyak jutaan aquarium-aquarium lain yang menunggu diperhatikan.

Contohnya kamu ingin terlihat alim. Bila zaman dulu mungkin kamu harus stand by terus di masjid tiap mendekati waktu shalat agar bisa dinilai oleh orang lain. Sekarang, kamu hanya perlu sesering mungkin memajang simbol atau membuat status agamis di media sosial dan lalu Voila! Orang-orang bahkan akan menasbihkanmu sebagai Ustadz!

Ironisnya, lama-kelamaan kita bisa hilang jati diri karena tertutupi identitas-identitas artifisial baru yang kita buat sendiri.

No comments:

Post a Comment